Budak Allah yang berusaha agar terus \’Idrak Shillah BiLlah\’


Benarkah Bunuh Diri Mengubah Takdir?
Mei 16, 2006, 6:45 am
Filed under: Uncategorized

Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran yang artinya :

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, (yang merupakan) suatu ketentuan yang sudah dijanjikan… (Terjemahan QS. Ali Imran [3]: 145)

Berbicara mengenai mati, berarti berbicara mengenai ajal. Disinilah pentingnya pemahaman tentang ajal itu dikaji ulang. Kadang orang sering mengatakan bahwa penyebab si fulan mati karena ditabrak truk yang sedang melaju kencang atau ratusan ribu orang mati di Aceh disebabkan karena gelombang tsunami yang menerpa daratan atau perampok bank mati disebabkan oleh peluru yang bersarang dijantungnya, benarkah pernyataan demikian?

Sebelum mengurai lebih jauh, terlebih dahulu kita harus menyepakati definisi dari sebab, sebab adalah sesuatu yang secara pasti akan menghantarkan kepada suatu akibat tertentu. Dengan kata lain, jika suatu sebab tidak terpenuhi, maka akibatnya tidak akan terjadi. Dari definisi ini, ternyata sebab dari kematian bukan karena ditabrak truk, atau tersapu ombak tsunami, atau ditembak oleh polisi, karena jika hal-hal itu dijadikan sebab maka akan muncul fakta bahwa ada orang yang masih tetap hidup walau ditabrak truk atau ada orang yang tetap selamat ketika dia tersapu ombak tsunami atau ada orang yang masih tetap bisa bernafas walaupun ada peluru yang bersarang di kepalanya.

Hal-hal diatas bukanlah sebab-sebab kematian manusia, karena tidak secara pasti menghasilkan kematian pada manusia, hal-hal itu hanya merupakan kondisi yang secara lazim dapat menghantarkan pada kematian, namun pada waktu yang lain kondisi inipun secara lazim juga tidak menghantarkan pada kematian, sehingga hal-hal diatas secara pasti bukanlah penyebab dari kematian, melainkan hanya kondisi saja. Karena kondisi seseorang ketika mati bermacam-macam, maka harus dicari apa sebab yang secara pasti dapat menghantarkan manusia kepada kematian, atau, apa yang dapat menyebabkan manusia itu mati secara pasti, dengan kata lain, apa sebab yang jika tidak terpenuhi maka manusia tidak akan mati?

Pertanyaan ini tidak akan bisa dijawab benar oleh manusia dengan akalnya, karena akal bersifat terbatas. Akal tidak akan mampu untuk mengetahui penyebab kematian, yang mengetahui penyebab kematian hanyalah Dzat yang menciptakan manusia, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Dan hendaknya khabar dari Allah ini berdasarkan dalil yang qath’i, baik dalalah-nya (penunjukkan maknanya) maupun tsubut-nya (periwayatannya). Dan ternyata Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitahukan kepada kita perihal sebab dari kematian melalui al-Qur’an, ini bisa ditelisik dari ayat-ayat berikut (yang artinya) :

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya"

(TQS Al Imron: 145).

 

 

"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati ketika tidurnya maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir"

(TQS. Az Zumar [39]: 42)

 

"… Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan"

(TQS Al Baqarah [2]: 258).

 

"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh"

(TQS An Nisaa' [4]: 78)

"Maka jika telah datang batas waktunya (ajal), mereka tak dapat mengundurkannya barang sedetikpun dan tidak dapat memajukannya"

(TQS Al A'raf[7]: 34)

 

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”

(TQS al-Qashash [28]: 88)

 

Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.’”

(TQS as-Sajdah [32]: 11)

 

Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’".

(TQS al-Jumu’ah [62]: 8 )

 

Kami telah menentukan kematian di antara kalian …”

(TQS al-Waqi’ah [56]: 60)

 

 

Semua ayat-ayat tersebut di atas dan banyak lagi ayat lainnya adalah qath'i tsubut yaitu bersumber pasti dari Allah dan qath'i dilalah (maknawi) yaitu bahwasanya Allahlah yang mematikan makhluq-Nya. Dan sesungguh­nya sebab datangnya kematian adalah sampainya ajal bukan berupa "keadaan/kondisi" yang dapat menghantarkan pada kematian.

 

Sehingga dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa sebab kematian adalah ajal, jika ajal telah tiba, maka tidak ada yang dapat mengundurkannya ataupun memajukannya walau sesaat, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya) :

 

"Maka jika telah datang batas waktunya (ajal), mereka tak dapat mengundurkannya barang sedetikpun dan tidak dapat (pula) memajukannya"

(TQS Al A'raf [7]: 34)

 

Dan kita tidak akan pernah mengetahui datangnya ajal, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya) :

 

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

(TQS Luqman [31]: 34)

 

Oleh karena itu, pengetahuan tentang ajal adalah pengetahuan yang bersifat Ghaib, tidak dapat terjangkau oleh akal manusia, sehingga kita tidak dapat mengetahui kapan dan dalam kondisi seperti apa kita mati, disinilah pentingnya agar kita selalu terikat dengan hukum syara’ dalam setiap hembusan nafas, agar jika ajal tiba, kita mati dalam keadaan menjalankan syariat Allah dan berakhir dalam keadaan Husnul Khotimah.

 

Dari pemaparan tentang sebab matinya manusia diatas, maka masalahnya kemudian apakah ajal termasuk kepada takdir Allah? Jika ya, apakah takdir Allah itu dapat dirubah oleh manusia? Jawabnya adalah benar bahwa ajal adalah qadha’ (ketetapan) dari Allah kepada kita manusia, dan manusia tidak dapat sedikitpun menolaknya.

 

Sebenarnya pembahasan masalah ini terkait erat dengan pembahasan Qadha’ Qadar-nya para Mutakallimin (ahli kalam), yaitu mereka yang terbagi menjadi dua aliran, pertama, bahwa perbuatan manusia itu muncul dari kehendaknya sendiri tanpa campur tangan Allah subhanahu wa ta’ala (freewill). Kedua, bahwa perbuatan manusia seluruhnya atas kehendak Allah saja (determinism), manusia hanya berlaku seperti bulu yang berterbangan atau wayang kulit yang digerakkan oleh dalang.

 

Kedua aliran ini muncul karena mereka berangkat dari sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala, aliran pertama berangkat dari sifat Allah yang Maha Adil, Maha Bijaksana, dan semacamnya. Jika manusia dikendalikan sepenuhnya oleh Allah, maka Allah dzalim karena mengendalikan Abu Jahal, misalnya, untuk masuk neraka, sedangkan Allah harus bersifat Adil, sehingga mereka berkesimpulan bahwa manusia diberi kebebasan dalam berkehendak dan berbuat, lalu mereka menukil dalil-dalil al-Qur’an yang mendukung pendapat mereka tersebut. Aliran pertama ini biasa disebut dengan golongan Mu’tazilah (Qadariyah).

 

Aliran kedua berangkat dari sifat-sifat Allah, yaitu Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, dan yang semacamnya. Dari sifat-sifat Allah tersebut aliran ini mengambil kesimpulan bahwa dalam berbuat, manusia selalu dalam kendali Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga seluruh perbuatan manusia tak lain hanyalah kehendak Allah semata. Aliran kedua ini biasa disebut dengan golongan Jabariyah.

 

Solusi yang benar dalam masalah ini adalah bahwa pembahasan Qadha’ dan Qadar harus dilepaskan dari permasalahan keterkaitan Ilmu Allah tentang perbuatan hambaNya, Iradah (Kehendak) Allah tentang perbuatan hambaNya, Lauhul Mahfudz (mengenai perbuatan hambaNya), dan perbuatan manusia terkait dengan diciptakan oleh Allah atau tidak. Pembahasan masalah Qadha’ Qadar harus dilepaskan dari keempat perkara tersebut, karena perkara-perkara itu tidak ada hubungannya dengan pahala dan siksa yang merupakan balasan dari setiap perbuatan manusia, atau mudahnya, kita tidak perlu membahas sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pahala dan siksa sebagai balasan dari perbuatan yang kita kerjakan.

 

Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan dan dibahas adalah apakah perbuatan itu dilakukan dalam area yang mampu diakuasai kita atau tidak? Atau dengan kata lain, sembari menjawab pertanyaan pada judul artikel ini, yaitu apakah bunuh diri yang dia lakukan itu disengaja atau tidak? Jika disengaja maka akan disiksa oleh Allah, dan jika tidak disengaja, maka tidak akan disiksa. Inilah yang sepatutnya dibahas, karena membahas apakah bunuh diri itu merubah takdir Allah atau tidak akan membuat kita terjerumus kedalam lembah hitam para mutakallimin. Kita secara tidak sadar akan membahas hal-hal Ghaib yang sama sekali tidak pernah terindera oleh kita, kita akan terbuai jatuh kedalam pembahasan mengenai Takdir Allah, apakah berubah atau tidak? Kitapun tidak akan terpana dan tersihir oleh pembahasan mengenai Lauhul Mahfudz, berubah atau tidak ketika kita bunuh diri? Maka akal kita yang terbataspun dipaksa untuk mengetahui Ilmu Allah yang tidak terbatas dan tidak pernah terindera, ini adalah hal yang mustahil, dan kesimpulannya akan jauh dari kebenaran.

 

Akhir kata, selayaknya kita sadar bahwa kematian itu pasti datangnya, tidak kita ketahui waktu dan tempatnya, bisa saja setelah membaca tulisan ini ajal menjemput kita, WaLlahu a’lam. Dan kematian tidak akan datang kecuali telah sampainya ajal, walaupun seseorang melakukan bunuh diri dengan menggantung diri atau menjatuhkan diri dari lantai 200 atau meminum 500 botol baygon, dia tidak akan mati sebelum ajalnya datang. Dan kita tidak tahu kapan datangnya ajal, kita akan tahu ajal telah datang ketika kita telah mati dan pada saat itu pula Allah menakdirkan kita untuk mati, sehingga Lauhul Mahfudz-pun akan tertulis bahwa hari itu, jam itu, detik itu kita mati, dan Allah telah mengetahui dengan Ilmunya bahwa kita telah mati.

 

[..Innashalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii liLlahirobbil ‘aalamiin. Laa syariikalahuu wabidzalika umirtu wa ana awwalul muslimiin]

 

"..Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".

(QS al-An’aam [6]: 162-163)

 

WaLlahu a’lam bish shawab. [hanif; 6April 2006, 22:15pm – 7 April 2006, 02:15am]

 

AlahmduliLlahirobbil ‘aalamiin.


8 Komentar so far
Tinggalkan komentar

isi blog-nya bagus. btw, ukuran font-nya koq beda2 seeh…

Komentar oleh syifa

JazakiLlah atas sarannya. Memang font berbeda seperti itu dibuat agar ada orang yang complain, dan ternyata goal-nya tercapai (Gak deng, cuma ngeles aja).

Komentar oleh han-han

duh dah brp bln ga di update. kok terakhir bln mei? ini dah januari 2007 lho malah

Komentar oleh indraku

Afwan, Ini juga mungkin karena pemahaman saya yang belum ter-update. Do’akan semoga dimudahkan oleh Allah..

Komentar oleh Han-han

oooooo………ngono to!

Komentar oleh den baguse

Yang namanya bunuh diri itu ya pasti sengaja mas…kalau gak sengaja namanya bukan bunuh diri….hehehe

Manuasia menang telah diberi ketetapan oleh Allah tentang kematiannya. Tapi ada satu hal yang harus kita ingat, manusia tak bisa lepas dari sunnatullah alias Qadha. Yaitu segala hukum alam yang berlaku di universe. contohnya adalah hukum gravitasi, hukum kekekalan energi, dll. Jika kita tahu api itu panas dan bisa membakar, maka jangna dekati api, bagaimanapun kita pasti akan terbakar jika tidak memakai pelindung. Ingat itu,kita tidak bisa menolak hukum fisika yang berlaku di dunia. Kalu tahu tak bisa berenang, ya jangan nyebur ke laut, resikonya ya tenggelam…
memang ada beberapa kondisi khusus yang memungkinkan manusia tak terpengaruh hukum fisika tersebut, tapi itu sangat kondisional hanya berlaku pada orang-orang tertentu (Nabi)dan pada momen-momen tertentu….
Grazie….

Komentar oleh Agung Permana

Kajiannya bgus bgt tp klau boleh mnanggapi pernyataan pada akhir kata yg mnyatakan bahwa hari jam dan detik matian seseorang tertulis di Laukhil Mahfudz setelah kematian itu sendiri terjadi (ajal mendatangi org yg mninggal)
Sedangkan dalam al-Qur’an surat Fathir ayat 11 dijelaskan bahwa….. Kehidupan seseorang tidak dapat diperpanjang maupun dikurangi karena telah ditetapkan di Laukhil Mahfud sejak dahulu

Komentar oleh Muhammad Sholahuddin

Now when Jesus was born in Bethlehem of Judea in the days of Herod the King, behold, there came wise men from the east to Jerusalem, saying, Where is he that is born King of the Jews? for we have seen his star in the east, and are come to worship him. Click https://twitter.com/moooker1

Komentar oleh viviandiaz77799




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: