Budak Allah yang berusaha agar terus \’Idrak Shillah BiLlah\’


Apakah ada yang lebih hebat dari Ikatan Islam?*
Mei 4, 2006, 10:33 am
Filed under: Sirah Nabawiyah

Sebelum Islam datang, orang-orang Arab memandang rendah seseorang yang berkulit hitam semata-mata karena warna kulitnya, dan suku-suku rela berperang dan saling membantai bertahun-tahun hanya demi kebanggaan keluarga. Namun tatkala Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menebarkan risalahnya, dan ajaran Islam mehunjam begitu kuat di hati setiap insan yang menjadi pengikutnya, sehingga ketika seseorang telah menyatakan dirinya Muslim, maka ia rela melepaskan seluruh ikatan-ikatan rusak itu dan mengikatkan diri dalam persaudaraan Islam. Bagi seorang Muslim, warna kulit, silsilah keluarga, daerah asal, atau kekayaan seseorang bukanlah suatu hal yang penting.

Ikatan persaudaraan yang muncul dari pemikiran Islam itu sanggup mendorong mereka untuk berperang melawan keluarga mereka sendiri demi melindungi saudaranya seiman. Suatu kondisi yang tidak akan pernah ditemui di dalam kehidupan masyarakat Arab Jahiliyah, bahkan tidak akan dijumpai pada masyarakat manapun, kecuali masyarakat Islam. Sejarah telah mencatat, Abu Ubaidah –seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bergelar amin al-ummah (kepercayaan ummat)— bertempur melawan ayahnya sendiri, yang saat itu musyrik, dan membunuhnya di Perang Badar, dan ia sama sekali tidak peduli ketika mayat ayahnya diseret dan dibuang ke sumur al-Qabil di Badar.

Generasi pertama pemeluk Islam menerima Islam secara komprehensif dan dengan keyakinan yang kuat. Mereka mengakui Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb dan satu-satunya Dzat yang layak disembah dan ditaati. Dengan pemahaman dan penyerahan diri seperti itu, mereka menerima sepenuh hati seluruh konsekuensidari keyakinan itu. Para sahabat radhiallahu ‘anhum dengan mudahnya melepaskan segala macam ikatan semu, dan menggantinya dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu, dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Terjemahan QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Kasus Sa’ad bin Abi Waqash radhiallahu 'anha kiranya dapat menjadi contoh bagaimana dahsyatnya pengaruh Islam terhadap hubungan keluarga di Makkah. Sa’ad sangat dicintai oleh ibunya, dan iapun mencintai ibunya. Ia adalah seorang pemuda terhormat, pemberani, dan dikagumi oleh banyak kalangan di masyarakatnya. Ketika Sa’ad masuk Islam, ibunya sangat marah dan melakukan aksi mogok makan, menuntut Sa’ad untuk keluar dari Islam. Saat belum masuk Islam, Sa’ad bin Abi Waqash tidak pernah membiarkan siapapun atau apapun mengganggu ibunya. Setelah Islam memasuki pikiran dan perasaannya, Sa’ad berkata kepada ibunya, bahwa seandainya ibunya punya banyak nyawa dan ia melihat setiap nyawa ibunya itu lepas satu per satu akibat mati kelaparan, ia tidak akan pernah melepaskan ke-Islamannyai. Sikap ini merefleksikan dampak dari dakwah RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap struktur sosial masyarakat Makkah.

Ibnu Ishak menuturkan, “Ibnu Wahb, seorang kaki tangan Banu Abd ad-Dar bercerita kepadaku, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima tawanan perang Badar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan mereka kepada para sahabatnya sambil berkata, ‘Perlakukan mereka dengan baik.’ Salah seorang diantara tawanan itu ialah Abu Aziz bin Umair bin Hashim, saudara kandung Mush’ab bin Umair radhiallahu 'anha. Abu Aziz berkata, ‘Saudaraku Mush’ab melewatiku dan berkata kepada orang Anshar yang menangkapku: ‘Jangan lepaskan dia! Ibunya kaya; mungkin ibunya akan menebusnya.’ ii

Ibnu Hisyam juga menuturkan, “Abu Aziz adalah pembawa bendera kaum Musyrikin setelah an-Nadr bin al-Harits tewas. Saat Abu Aziz melihat saudaranya (Mush’ab) berbicara kepada Abu al-Yusr yang telah menangkap dirinya, Abu Aziz berkata kepada Mush’ab: ‘Wahai saudaraku, inikah yang engkau inginkan?’ Mush’ab menjawab: ‘Dialah (sambil menunjuk Abu al-Yusr) saudaraku, bukan engkau!’iii Mush’ab rela melepaskan ikatan dengan saudara kandungnya sendiri, dan menunjuk seorang Muslim yang lain yang tidak ada hubungan keluarga dengan dirinya, sebagai saudaranya melebihi keluarganya sendiri. Ini karena Mush’ab sadar, bahwa ketaatannya tidak lagi kepada garis keluarga atau keturunan atau daerah asalnya, tetapi kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan Allah subhanahu wa ta’ala telah menentukan siapa yang menjadi ‘keluarganya’, dan menentukan kriteria persaudaraannya.

Tirmidzi meriwayatkan, “Ibnu Abu ‘Umar bercerita kepada kami, bahwa Sufyan memberitahunya dari ‘Amr bin Dinar, yang mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata: ‘Kami sedang dalam perang’, dan Sufyan berkata: ‘Mereka pikir itu perang melawan Banu Mustaliq,’ ketika salah seorang Muhajirin mendorong salah seorang Anshar… ‘Abdullah bin Ubay bin Salul mendengar hal itu dan berkata, ‘Kenapa bisa terjadi seperti ini? Demi Allah, saat kita kembali ke Madinah, yang lebih kuat akan melemparkan yang lebih lemah.’iv Maksud dari kata-kata Ubay bin Salul itu adalah, bahwa yang lebih kuat ialah dirinya, sedangkan yang lebih lemah adalah RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mendengar hal itu, anaknya, yaitu ‘Abdullah bin ‘Abdullah, berkata kepadanya: ‘Demi Allah, engkau tidak akan kembali sampai engkau akui bahwa engkaulah yang lebih lemah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih kuat,’ lalu ayahnya (‘Abdullah bin Ubay) mengakui. “‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Ubay senantiasa memperlakukan ayahnya secara baik dan penuh hormat, tapi ketika ia harus memilih antara ayahnya atau Allah subhanahu wa ta’ala dan RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam, loyalitasnya ia berikan kepada keimanannya, dan ia menawarkan diri kepada RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh ayahnya sendiri dan membawa kepalanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam karena telah menghina RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam.v

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan ikatan kekeluargaan harus dijalin pertama-tama berdasarkan keyakinan pada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga menegasikan loyalitas total seseorang terhadap keluarganya atau sukunya, dan menggantinya dengan loyalitas terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Islam membatasi persaudaraan dan persahabatan hanya dikalangan orang Mukmin saja. Tidak ada persaudaraan dan persahabatan sejati antara seorang Mukmin dengan orang kafir. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu, dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (TQS. Al-Hujurat [49]: 10)

Islam menempatkan seluruh kepentingan duniawi dan hubungan seorang Muslim di bawah kecintaan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Islam memperingatkan kaum Mukmin untuk tidak mendahulukan kepentingan sosial dan hubungan mereka diatas kewajiban mereka selaku Muslim, ketika Allah subhanahu wa ta’ala dengan tegas menyatakan:

Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (TQS. At-Taubah [9]: 24)

Jika demikian halnya, pantas saja para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, generasi terbaik yang pernah dimiliki umat manusia, mempunyai sikap tegas yang senantiasa selaras dengan tuntunan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Itu mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa fragmen diatas menunjukkan pengaruh dari iman yang dalam, dan keyakinan yang tak tergoyahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, dalam bentuk ikatan yang amat kuat diantara sesama Muslim. Itulah ikatan iman, ikatan aqidah Islam. Ikatan inilah yang mengalahkan ikatan lain, apapun jenisnya, yang selama ini dipaksakan untuk menyatukan berbagai komunitas masyarakat sehingga menjadi sebuah bangsa yang semu. Bila kita menginginkan kaum Muslim bersatu, tidak ada ikatan yang benar dan kuat selain dari ikatan aqidah Islam. Dan kalau kaum Muslim saat ini tidak bisa disatukan dengan berlandaskan ikatan ini, itu berarti keimanan mereka baru sebatas kerongkongannya saja, tidak menghunjam didalam hati. Dan jika kita saat ini sulit menjumpai karakter dan perilaku seperti yang dicontohkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu karena interaksi kita dengan sesama Muslim bukan lagi dijalin dengan ikatan aqidah Islam.[SB]

*Diketik ulang dari tulisan yang dibuat oleh Shadman Baiq, yang dimuat dalam Khilafah Magazine No. 7/Tahun I, April 2006 halaman 47-48, dengan penambahan catatan kaki. [agunghanif@gmail.com, 17 April 2006, 02:51am WIB]

Catatan Kaki :

i Pembahasan serupa dapat dijumpai dalam kitab ar-Rijal haular Rasul (terj.) karya Khalid Muhammad Khalid, Penerbit Diponegoro: Bandung, cet. XVII, Tahun 2001, hlm. 143-144

 

ii Lihat Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Darul Falah, Jakarta, cet. Kelima, 2005, jilid 1, hlm. 622. Disebutkan juga dalam kitab ini tentang pengakuan Abu Aziz bin Umair ketika ia menjadi tawanan perang, ia diberi makan siang dan makan malam, bahkan dia diberi roti sedangkan para sahabat hanya memakan kurma, ini karena RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berbuat baik terhadap para tawanan perang. Dan akhirnya, Abu Aziz ditebus oleh ibunya yang juga ibu kandung Mush’ab bin Umair seharga empat ribu dirham.

 

iii Lihat Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Darul Falah, Jakarta, cet. Kelima, 2005, jilid 1, hlm. 622.

 

iv Lihat juga dalam kitab karangan Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Darul Falah, Jakarta, cet. Keempat, 2005, jilid 2, hlm. 255.

 

v Lihat Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Darul Falah, Jakarta, cet. Keempat, 2005, jilid 2, hlm. 257.

 


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu, dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (TQS. Al-Hujurat [49]: 10)

tetep jaga ukhuwah islamiyah..

wassalam.

Komentar oleh oRiDo

assalamu’alaikum wr.wb.
tetep jaga ukhuwah islamiyah..

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu, dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Terjemahan QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Komentar oleh oRiDo

Tak ade yang lebih indah daripade persaudaraan kerana Allah

Komentar oleh ichsanmufti




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: