Budak Allah yang berusaha agar terus \’Idrak Shillah BiLlah\’


Sama Bekas Penjajah Kok Bangga..?!
April 7, 2006, 1:26 pm
Filed under: Sirah Nabawiyah

Akhir-akhir ini Indonesia sedang ‘ngambek’ dengan Australia, masalahnya adalah karena Australia memberikan visa tinggal sementara kepada 42 aktivis pro-kemerdekaan Papua beberapa hari setelah kerusuhan di Universitas Cendrawasih yang menelurkan korban 5 orang, 4 anggota Polisi dan 1 anggota TNI. Para aktivis itu terkenal dikampusnya sebagai aktivis pro-kemerdekaan yang terus menyerukan kemerdekaan bagi papua untuk menjadi negara sendiri dan lepas dari pemerintahan RI. Artinya mereka memperjuangkan agar bangsa Papua dapat merdeka dari penjajahan Indonesia.

Sebenarnya umat Islam tidak boleh atau diharamkan untuk menyerukan atau mendukung perjuangan rakyat papua yang ingin merdeka dan melepaskan diri dari NKRI. Namun jika kita boleh berandai-andai, ingat, ini hanya berandai-andai bahwa tahun 2007 papua merdeka dan mempunyai negara sendiri, presiden sendiri, dan Undang-undang sendiri, maka jangan heran Soekarno-soekarno baru lahir dipapua, sayangnya soekarno baru ini bukan menyerukan semangat Nasionalisme Indonesia tetapi menyerukan Nasionalisme Papua, bahwa bangsa papua harus menjaga semangat nasionalismenya sehingga negara papua yang merdeka akan terjaga kedaulatannya dari serangan musuh-musuhnya terutama NKRI. Sekali lagi, bagi umat Islam ini merupakan hal yang tidak boleh diharapkan.

Jika andai-andai itu terjadi, maka jangan kaget kalau banyak propinsi-propinsi lain yang akan menyusul, dan diantara mereka menyerukan kemerdekaan bangsa masing-masing, orang Aceh menyerukan untuk kemerdekaan bangsa Aceh, orang Bali menyerukan kemerdekaan bangsa Bali, bahkan orang Cepu pun akan berteriak-teriak demi kemerdekaan bangsa Cepu. Yang menjadi masalah adalah, apa yang menjadi batasan dari bangsa itu sendiri? Atau apa dapat membuat seseorang itu dapat dikatakan sebagai bangsa Indonesia atau bukan? Dan apa yang dapat membuat seseorang itu dapat disebut sebagai bangsa Malaysia atau bukan?

Jika yang menjadi batasan dari definisi bangsa adalah tapal batas sebuah negara, mengapa tapal batas itu bisa berubah-ubah, seperti tapal batas NKRI yang ditarik jauh ke barat di pulau Timor ketika Timor timur merdeka? Yang berarti status rakyat Timor timur yang dahulunya sebagai bangsa Indonesia menjadi bangsa Timor timur. Jadi kalau kita ingin menjadi bangsa Amerika, tinggal tarik saja tapal batas negara USA ke Yogyakarta, jadilah kita bangsa Amerika Serikat. Oleh karena itu, tapal batas sebuah negara tidak valid untuk mengukur kebangsaan seseorang. Lantas apa?

Jika yang menjadi alasan adalah kesamaan ras atau suku bangsa, maka jangan heran jika rakyat di wilayah Indonesia timur akan cepat-cepat keluar dari NKRI. Namun, yang lebih tepat menganai batasan sebuah bangsa adalah kesamaan penjajah. Jujur saja, lebih mirip mana orang sumatera dan malaysia dengan orang sumatera dan orang Papua? Mengapa orang Papua dapat dikatakan sebagai bangsa Indonesia sedangkan Malaysia tidak? Padahal lebih mirip antara orang Sumatera dengan orang Malaysia. Yang menjadi perbedaan adalah bekas penjajahnya, Sumatera dan Papua bekas jajahan Belanda sedangkan malaysia bekas jajahan Inggris. Mungkin ini juga yang menjadi alasan rakyat Timor timur untuk lepas dari NKRI, yaitu beda bekas penjajahnya. Indonesia dijajah Belanda sedangkan Timor timur dijajah Portugis, butuh waktu yang lama bagi rakyat Timtim untuk sadar akan hal itu, baru akhir-akhir ini mereka sadar dan merasa ‘dibohongi’ oleh Indonesia.

Bekas penjajahan merupakan argumen kuat yang menjadi batas bagi definisi sebuah bangsa. Kalau begitu, rakyat Indonesia yang menyerukan Nasionalisme sebagai semangat kebangsaan Indonesia, dan berteriak-teriak bahwa kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia sejatinya adalah bangga terhadap penjajah Belanda yang dahulu menjajah negeri ini, bangga terhadap penjajah Belanda yang telah mempunyai wilayah jajahannya yang luas. Begitu juga rakyat Papua, jika mereka merdeka dan bangga menjadi bangsa papua maka sejatinya mereka bangga akan ‘penjajah’ Indonesia yang telah menjajah mereka, kalau mereka tidak bangga mengapa mereka tidak bersatu saja dengan Papua Nugini? Akan halnya Indonesia, jika kita tidak bangga terhadap Belanda yang telah menjajah Indonesia, mengapa kita tidak bersatu saja dengan Malaysia?

Inilah ikatan-ikatan semu Nasionalisme yang bathil, kelemahan ikatan ini (nasionalisme) tumbuh ditengah-tengah masyarakat yang taraf berfikirnya rendah, ikatan ini timbul dari naluri mempertahankan diri manusia dari pihak-pihak yang ingin menjajah, sehingga naluri ini bersifat temporal dan akan hilang atau melemah tatkala musuh atau penjajah telah dilawan dan diusir dari negara itu. Buktinya dapat kita lihat seperti sekarang ini, ada beberapa rakyat Papua yang ingin merdeka, padahal mereka dahulu bahu membahu bersama rakyat Indonesia yang lain untuk mengusir penjajah. Oleh karena itu, jika kita bangga sebagai bangsa Indonesia, berarti kita bangga terhadap Belanda sebagai bekas penjajah kita. Selayaknya, kita umat Islam bersatu hanya berdasarkan atas aqidah Islam, inilah maksud firman Allah Swt yang artinya :

Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara.” (QS Al Hujurat : 13).

Ketika kita sepenuhnya sadar akan ayat ini maka kita tidak akan lagi mempunyai sikap fanatisme terhadap golongan atau bangsa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahkan mengharamkan ikatan ‘ashabiyah (fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang bertentangan dengan Islam, termasuk nasionalisme, Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ashabiyah (fanatisme golongan, seperti nasionalisme). (HR. Abu Dawud).

Akhir kata, tidak ada tempat untuk bangga dengan penjajah yang telah menjajah negeri kita, dan tidak ada tempat bagi penjajah yang akan menjajah pemikiran kita dengan Nasionalisme, hanya dengan Islamlah kita bisa merdeka secara penuh, hanya dengan Islamlah kita bersatu, dan hanya dengan Islamlah hidup kita akan selamat dunia akhirat, insya Allah, Allahu akbar!! [hanif, 1 April 2006, 03:22am]


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Saya mengartikan nasionalisme sebagai, tanggung jawab seseorang yang telah dilahirkan pada suatu tempat, untuk memperbaiki tempat itu, dan berusaha agar tempat itu tetap baik. Soalnya, tempat itulah yang diamanahkan padanya ketika dia lahir hingga dewasa. Nasionalisme juga berarti, mengutamakan budaya sendiri yang tidak melanggar syari’ah, demi mencapai kemaslahatan umum dan kebaikan bersama.

Komentar oleh fauzan.sa

Ya, begitulah nasionalisme, pengertiannya nisbi. Siapapun dapat sesuka hati mengartikan NAsionalisme, tapi yang jelas ikatan apapun yang dijalin bukan berdasarkan pada ikatan Aqidah Islam, itu adalah ikatan batil yang sangat lemah derajatnya karena bersifat temporer, ingat, temporer. Kalo ada Islam, kenapa pilih yang lain??? Gitu, ya kaan….

Komentar oleh han-han

saya ingin tahu tentang kebaikan & keburukan Belanda saat menjajah Indonesia
terima kasih

Komentar oleh MAYA




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: