Budak Allah yang berusaha agar terus \’Idrak Shillah BiLlah\’


Adakah Kebenaran Yang Mutlak?
Mei 16, 2006, 6:15 am
Filed under: Uncategorized

Einstein dan teori relativitas merupakan hal yang sulit dipisahkan, siapa yang berbicara teori relativitas maka dia akan ingat sesosok nama ilmuwan jenius ini, dan siapapun yang berbicara mengenai Einstein akan sulit untuk melupakan teori relativitas yang pernah diramu oleh mbah berambut ‘nge-punk’ ini.

Namun saya tidak akan membicarakan teori relativitas maupun Einstein, jadi jangan kuatir, tidak akan ada rumus-rumus yang bakal bikin mata berputar-putar, atau membuat buku Fisika SMA saya hanya penuh dengan coretan-coretan tumpahan isi hati, bukan tumpahan ilmu teori relativitas yang diajarkan oleh guru. Mudahnya, Einstein berteori bahwa kecepatan/laju suatu benda amat tergantung pada keadaan si pengamat atau benda lain yang menjadi pembandingnya. Laju/kecepatan Andong yang dikemudikan Pak Kusir akan mempunyai angka yang berbeda jika dilihat dari warung es cendol dan jika dilihat dari pesawat Lion Air yang sedang mengudara entah terlihat atau tidak. Dari sini saya lantas beranalogi, tentu akan beda jika seorang pengemis dan direktur PLN melihat tempe goreng yang sama. Sang pengemis yang sudah tidak makan berhari-hari tentu akan sangat bernafsu untuk segera melahapnya, tapi sang direktur PLN akan mempunyai sikap yang berbeda, dia akan sangat-sangat tidak bernafsu untuk memakan tempe goreng yang ada dihadapannya, mungkin karena dia sudah terbiasa makan daging ayam setiap hari atau mungkin dia sedang pusing memikirkan status sebagai tersangka korupsi yang sekarang lagi disandangnya. Huhh..

Kita tinggalkan balada Einstein, karena teorinya hanya bisa dipakai dalam ranah ilmiah (ilmu pasti/sains) sehingga dalam ranah kehidupan sosial teori ini tidak berpengaruh nyata. Kita sekarang beranjak kepada seorang aktivis posmodernis yang bernama Michael Fackerell karena dia telah mengucapkan suatu slogan yang saat ini bak sebuah firman Tuhan yang diyakini kebenarannya, teori yang hampir-hampir menyamai teori Einstein tentang relativitas. Bedanya, teori Einstein biasanya hanya digunakan dalam buku-buku Fisika, tapi teori yang ditelurkan oleh Fackerell ini benar-benar digunakan dalam kehidupan nyata.

Teori ini tidak hanya di-“dakwah”-kan kaum Pluralisme eksterm sejenis Nurcholis Majid yang menggunakan teori ini, tetapi juga para tukang becak, polisi, penggali kuburan, pembuat genteng, penambal ban, sampai anggota DPR, Presiden, dll (maaf bagi yang belum saya sebutkan profesinya). Ini terbukti ketika seorang artis yang dikagumi banyak orang dalam balada bajaj bajuri sebagai istri yang “o-on” berdalih ketika dia diintimidasi oleh aktivis dari Forum Betawi Rempug (FBR) karena melakukan aksi menolak RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi), “..saya tidak takut disalah-salahkan sama mereka, kan mereka bukan Tuhan yang berhak menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, Yang penting Allah kan Maha Indah dan mencintai keindahan..”.

Atau pernyataan seorang penyanyi nonmuslim Glen Fredly yang menikah dengan Muslimah Dewi Sandra ketika MUI melalui KH. Umar Shihab memfatwakan bahwa nikah beda agama antara laki-laki kafir dan muslimah adalah tidak sah dan diharamkan dalam agama, “..Siapa yang bilang pernikahan kita tidak diridhoi oleh Tuhan, toh tidak ada apa-apa ketika acara resepsi berlangsung, aman-aman saja, bahkan hujan baru turun ketika acara itu selesai, saya kira inilah pertanda bahwa Tuhan merestui pernikahan kami. Siapapun bisa mengatakan ini benar dan ini salah, tapi yang tau kebenaran kan cuman Tuhan..”, kira-kira begitulah pernyatan mereka.

Tak terbantahkan lagi bahwa kata-kata mereka itu sebenarnya didasari oleh slogan yang diucapkan oleh Fackerell, “All is Relative (Semua adalah relatif)”. Slogan ini memang diyakini kebenarannya oleh orang-orang zaman posmodern seperti sekarang, seperti saya katakan tadi, bak firman Tuhan yang entah termaktub dalam kitab apa. Dari slogan ini kita akan banyak menemukan slogan-slogan lain yang merupakan “anak haram”-nya seperti, “Benar bagi anda belum tentu benar bagi kami” atau “Semuanya benar dan harus dihormati” atau “Tidak ada kebenaran mutlak” atau yang lain yang saat ini menggejala ditengah-tengah masyarakat terutama dikalangan artis. Yang menutup aurat atau yang membuka sama baiknya, semua benar karena memang tidak ada kebenaran yang mutlak. Atau yang lebih ekstrem dengan mengatakan bahwa janganlah menyebut Tuhan dengan Alloh atau Allah atau Yesus atau Budha atau yang lain, tapi sebut saja “The One” karena tuhan semua agama adalah sama.

Hey.. bukankah slogan anda itu juga sudah mutlak!” Kata saya kepada seorang sahabat, jadi slogan anda juga tidak mutlak benarnya. Artinya, status kebenaran orang yang mengatakan “Ada kebenaran mutlak” dengan orang yang mengatakan “Tidak ada kebenaran mutlak” adalah sama benarnya. Jadi slogan ini sebenarnya sudah menyalahkan dirinya sendiri sejak awalnya, atau mengalami pembunuhan diri sendiri, karena slogan “Tidak ada kebenaran mutlak” telah mentah atau disalahkan oleh dirinya sendiri, karena slogan itu juga tidak mutlak kebenarannya, jadi buat apa diikuti, slogan yang belum tentu benar bahkan slogan yang menyalahkan dirinya sendiri. Analoginya seperti ini, ketika kita mau naik bis ternyata bis itu jurusannya tidak diketahui/tidak tertulis, atau kondektur menjawab bahwa bis ini bisa kemana saja, apakah kita mau naik bis itu? Tentu suatu wujud kelemahan berfikir bila kita menaikinya.

Islam memandang bahwa kebenaran mutlak itu adalah milik Allah semata, tetapi tidak berhenti disitu saja, Allah subhanahu wa ta’ala telah menuangkan kebenaran-kebenaran-Nya melalui utusannya didunia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari RasuluLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah Allah menurunkan firman-Nya yang benar secara mutlak dalam al-Qur’an. Dan juga mewahyukan kebenaran-Nya kepada utusannya yang mulia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian termaktub didalam as-Sunnah sebagai petunjuk bagi manusia agar dapat mengikuti kebenaran.

Tapi pada kenyataannya, banyak dari umat Islam yang berbeda pandangan dalam suatu masalah tertentu, terutama dalam hal cabang agama seperti fiqh. Ini harus dilihat sebagaimana mestinya, karena yang digunakan dalam memandang perbedaan ini bukan slogan dari kaum posmodernis tadi, seperti “Tidak ada kebenaran mutlak”, jika kita menggunakan slogan ini semata tanpa memandang sebab perselisihan, maka kita termasuk pendakwah ayat setannya Nietzsche. Oleh karena itu kita harus memahami dahulu hukum syara’.

Hukum Syara’ adalah seruan Allah sebagai pembuat hukum (khithab Syari’) yang berkaitan dengan amal perbuatan hamba (manusia). Seruan Allah itu ada yang bersifat pasti sumber periwayatannya pasti 100% dan tidak diragukan lagi (qath’i tsubut) seperti Al-Quran dan Hadits mutawatir, dan ada yang yang sumbernya belum pasti (tidak pasti 100%) dan masih berupa sangkaan (zhanni tsubut), seperti hadits yang bukan tergolong hadits mutawatir (Hadits Ahad atau Hadits Masyhur).

Apabila sumber periwayatannya pasti (qath’i tsubut), maka perlu dilihat; yaitu bila penunjukkan dalilnya (maknanya) bersifat pasti (qath’iud dilalah), maka hukum yang dikandungnya adalah pasti pula, dalam artian, tidak ada penafsiran lain selain makna yang ditunjuk oleh dalil tersebut dan tidak ada perbedaan pandangan ulama dalam hal ini, misalnya jumlah rakaat shalat fardlu yang kesemuanya bersumber dari hadits mutawatir. Begitu juga dengan hukum haramnya riba, potong tangan bagi pencuri, atau hukum jilid bagi pezina. Semua itu merupakan hukum-hukum yang penunjukkan maknanya bersifat pasti dan nilai kebenaran di dalamnya merupakan suatu yang sudah tak terbantahkan lagi.

Akan tetapi apabila seruan Syari’ (Allah sebagai pembuat hukum) sumber periwayatannya bersifat pasti (al-Qur’an dan Hadist Mutawatir) sedangkan penunjukan maknanya bersifat zhanni (dugaan kuat), maka hukum yang terkandung di dalamnya adalah zhann, dengan kata lain, merupakan suatu hal yang dimaklumi jika terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf) dikalangan umat Islam. Misalnya ayat tentang jizyah, yaitu uang yang dipungut negara Islam dari orang kafir dzimmi yang menolak masuk Islam, tetapi bersedia hidup dalam masyarakat Islam. Dilihat dari sumber periwayatannya bersifat qath’i yakni dari Al-Qur’an surah at-Taubah [9] ayat 29 yang artinya :

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk (hina dina).

Ayat diatas merupakan qath’i dari Allah subhanahu wa ta’ala karena termaktub dalam al-Qur’an yang sumber periwayatannya mutawatir (qathi tsubut), tetapi bila ditinjau dari perincian-perincian hukumnya, maka penunjukan dalilnya (maknanya) adalah zhanni atau masih dapat terjadi perselisihan perndapat. Mazhab Hanafi misalnya mensyaratkan penggunaan istilah (jizyah); dan ketika memberikannya harus tampak jelas kehinaan bagi pembayarnya seperti dengan membungkukkan badan kepada Khalifah (Amirul Mukminin) saat membayar jizyah. Sedangkan mazhab Syafi’i tidak mensyaratkan hal ini, bahkan membenarkan mengambilnya dengan sebutan zakat mudla’afah, zakat berlipat ganda, serta tidak perlu menampakkan kehinaan, melainkan cukup tunduk saja terhadap hukum-hukum Islam.

Adapun seruan Syari’ yang ketetapannya (periwayatannya) bersifat zhanni tsubut seperti hadits yang bukan mutawatir (Hadits Ahad atau Hadits Masyhur), maka hukum yang terkandung di dalamnya menjadi zhanni pula, sehingga membuka peluang terjadi perbedaan pendapat dikalangan kaum Muslimin, baik itu berupa dilalah-nya qath’i (penunjukkan maknanya pasti) seperti puasa enam hari pada bulan Syawal yang ditetapkan oleh sunnah (Hadits), maupun yang dilalah-nya zhanni (penunjukkan maknanya tidak pasti) seperti larangan menyewakan tanah lahan pertanian yang juga ditetapkan oleh sunnah.

Jadi, dari pemahaman kita yang menyeluruh, jelas dan terukur tentang Hukum Syara’ beserta dalil-dalilnya maka terjadinya perbedaan pendapat memang merupakan suatu hal yang dimaklumi. Namun perlu dicatat bahwa dalam perkara Aqidah (Ushuluddin) yang ditunjuk oleh dalil-dalil yang qath’i tsubut maupun dilalah-nya maka tidak dibenarkan adanya perbedaan, seperti Allah itu ahad (satu), shalat fardhu subuh itu dua rakaat, atau Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada lagi nabi setelahnya merupakan hal tidak boleh berbeda, dengan kata lain dini berlaku kebenaran mutlak, sehingga yang menyalahinya atau yang menyelisihinya adalah salah dan sesat serta telah keluar dari kebenaran.

Begitu juga dengan menutup aurat bagi Muslimah merdeka (QS. 24:31), menggunakan kerudung (QS. 24:31) dan jilbab (QS. 33:59 dan hadits) dalam kehidupan umum merupakan kebenaran yang mutlak dan tidak dapat dibantah-bantah kewajibannya bagi seorang Muslimah yang merdeka (bukan budak). Jika ada umat Islam yang mengatakan bahwa menutup aurat itu tidak wajib, maka dia telah salah secara mutlak dan dapat dikatakan dia salah, karena dia menyalahi nash al-Qur’an yang pasti 100% sumbernya (qath’i tsubut) dan pasti menunjukkan kewajiban memakainya (qath’iud dilalah) dari Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Benar, sehingga secara kebalikannya muslimah yang menutup aurat adalah benar secara mutlak, karena perintah ini dikeluarkan oleh Dzat yang Menciptakan Kebenaran itu dalam Firman-Nya yang benar di al-Qur’an dan as-Sunnah, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Wa-Allahu a’lam bish shawab. [hanif, 9 Mei 2006, 04:20am]

AlhamduliLlahi rabbil ‘aalamiin.

About these ads

1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Semoga orang”yg mendewakan akal/otak dalam rangka mencari kebenaran segera dapat terbuka hatinya dan menjadikan al qur’an hadist sebagai rujukan utama dlm menjalani hidup berbangsa dan beragama

Komentar oleh zaenuri




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: